Bajaj Auto Indonesia BEP di 2012, Sukses di Segmen Niche Banyak Manfaatnya..! 0

Selasa, 3 Agu '10 13:10

 

Membaca berita mengenai membaiknya cash-flow Bajaj Auto Indonesia sebagai salah satu anak perusahaan Bajaj Auto Limited Ltd. (India) di link ini, membuktikan bahwa idealisme Bajaj sebagai produsen motor yang berkomitmen tinggi untuk terus fokus berbisnis motor sport alias motor batangan cukup berhasil. Sejak tahun 2006 BAI mulai berbisnis di Indonesia dan prediksi break even point (BEP) nya pada tahun 2012.

Berarti hanya dalam 6 tahun, BAI telah sukses mengubah net cash flow nya dari nilai negatif menuju positif.

Membaiknya loss BAI dari 11 crore menjadi 6 crore di first quarter tahun 2010 ini turut didukung dengan perbaikan manajemen dan sumber daya manusia, seperti yang ane tulis di artikel sebelumnya.

Melalui artikel ini pula ane ingin menggaris bawahi idealisme Bajaj dalam mewarnai pasaran motor sport di tanah air. Pasaran motor sport memiliki banyak Obstacle, Threat dan Weakness...(hehehe, belajar SWOT dikit), sebut saja:

  • kelas motor sport yang sifatnya niche alias segmented
  • harga produk yang lebih mahal
  • pesaing yang lebih kuat
  • brand image Bajaj yang masih harus diperbaiki

Dengan segala minus point tersebut, Bajaj berhasil melakukan segenap daya upaya, dari mulai perbaikan brand image, perekrutan SDM manajemen baru, peningkatan fitur dan kualitas produk hingga pembuatan iklan yang catchy. Bahkan BAI akan mulai mengoperasikan pabriknya pada 2011 nanti.. We'll see..

Suksesnya Bajaj berjualan produk niche dengan jajaran Serigala Pulsarnya ini seharusnya mampu menjadi inspirasi bagi ATPM lain untuk lebih berkomitmen dan lebih idealis dalam berdagang.

Produk niche dapat mutually-benefit alias saling menguntungkan beberapa pihak stakeholders transportasi seperti produsen, konsumen dan pemerintah. Mengapa?

  • Dari sisi produsen, berjualan motor sport/batangan dengan karakter seperti Pulsar terbukti dapat pula cepat balik modal alias BEP (Break Even Point). Jadi...sebaiknya tak usahlah mengeluarkan begitu banyak effort nan lebay bin ndeso, dari mulai bikin iklan jembatan rubuh karena motor, membuat motor bebek bersuara mesin motor balap dan sejenisnya. Lihatlah Pulsar yang melenggang santai dengan iklan yang relatif tidak lebay dan lebih elegan. Image produk niche-nya mencerminkan kebanggaan yang tidak murahan tanpa harus melakukan Pembodohan Otomotif lewat iklan. Konsumen juga gak bodoh oi..

  • Dari sisi konsumen, produk niche dengan harga dan uang muka kredit yang tentu lebih tinggi dari motor bebek akan membuat calon konsumen lebih mau berusaha untuk mendapatkan sang Serigala impian. Calon konsumen akan mau bersusah-payah mengumpulkan uang untuk meminang sang Serigala. Ini sejalan dengan tweet Safir Senduk, salah satu ahli keuangan Indonesia yang kira-kira seperti ini bunyinya "Menunda kesenangan itu membuat hidup lebih bermakna dengan hasil lebih besar yang diperoleh di akhir". Bandingkan dengan effort yang diperlukan untuk jenis motor lain yang lebih murah..yaagh..memang calon konsumen akan lebih cepat mendapatkan barangnya, lebih cepat terpuaskan.. tapi.. dimana letak kebanggaannya mengendarai motor yang terlalu mudah diperoleh dan dimiliki banyak orang alias pasaran?
  • Dari sisi pemerintah sebagai regulator, dengan membatasi produksi ATPM dan penggunaannya hanya pada segmen niche ini akan lebih meringankan tugas penyelenggara jalan dan instansi terkait lainnya. Terbayang bahwa populasi sepeda motor akan lebih berkurang jauuuuh berkat seleksi ketat pemerintah pada calon pengendara dan prosedur kepemilikan dan penggunaan. Yang jelas kebijakan pembatasan harus dibarengi dengan peningkatan fasilitas transportasi massal dong..!

transportasi massal..capek dech..

Tapi ya...hey, itu hanyalah gambaran ideal saja dimana:

  • Calon Konsumen punya kebanggaan akan produk yang dipilihnya dengan sejumlah effort tertentu.

  • Produsen punya idealisme dalam berjualan..jangan mentang-mentang jualan bebek goreng laku keras lantas menunya bebek goreng muluuu..kalkunnya gak pernah dipikirin dan malah asyik melakukan Pembodohan Otomotif. eeh...produsen lainnya bukannya buat diferensiasi nyemplung ke Blue Ocean, malah ikut berdarah-darah di Red Ocean yang sudah jenuh bin sumpek..
  • Pemerintah memiliki grand design keseimbangan antara kendaraan umum dan pribadi yang jelas. Pembatasan kendaraan pribadi  itu bisa jadi bagian dari grand design, tapi harus difasilitasi dengan peningkatan kualitas transportasi umum. Jangan ikut-ikutan ketularan Pembodohan Otomotif juga dooong.

Well...in the end ane hanya bisa memandangi sang Serigala 180 ane yang mungkin sebentar lagi akan menjadi Serigala 220. Sebuah produk niche, wujud idealisme pribadi yang difasilitasi produsen dengan mantabs.

Terkesan memuji Bajaj? Hmmm...gak juga...sebenarnya ane termasuk orang yang setuju dengan pembatasan sepeda motor. TAPI dengan syarat perbaikan dan peningkatan kualitas transportasi massal. Piye...Pak Presiden dan Pak Menteri...iso pora son..???

Jika syarat tersebut tidak dipenuhi ya..terpaksa lah ane harus mengendarai sang Serigala di jalanan nan semrawut pating macut..eh macet bersama korban-korban pembodohan otomotif yang sruntulan di segala penjuru jalanan kota.

korban PEMBODOHAN OTOMOTIF

 


Tag: Bajaj, niche, BAI, balik modal, bangga, BEP, pembatasan motor, pembodohan otomotif

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat